bajalinks.com – Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) muncul sebagai alternatif yang relevan di tengah potensi gangguan pasokan minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini dapat memicu kelangkaan dan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Pengamat otomotif Bebin Juana menegaskan bahwa kelangkaan dan harga BBM yang melambung akan mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Ia menjelaskan bahwa ketika BBM mulai sulit didapat, masyarakat cenderung mencari solusi yang lebih efisien. Kendaraan listrik berbasis baterai bisa menjadi pilihan yang strategis.
Walaupun demikian, Bebin menekankan pentingnya kecermatan dalam memilih kendaraan listrik. Ia mengingatkan agar konsumen tidak hanya terpengaruh oleh label teknologi, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi konsumsi energi harian dari kendaraan yang dipilih. “Konsumen harus cerdas memilih kendaraan yang benar-benar menunjukkan penghematan BBM,” ujarnya.
Bebin memperkirakan, jika sekitar 100 ribu hingga 150 ribu konsumen beralih ke kendaraan listrik, dampaknya akan terasa signifikan dalam mengurangi antrean di stasiun pengisian bahan bakar. Hal ini diharapkan dapat meringankan beban pasokan BBM yang selama ini harus dipenuhi, serta memberikan dampak positif bagi keuangan negara melalui penurunan konsumsi BBM nasional.
Di sisi lain, keberlanjutan kebijakan insentif untuk kendaraan listrik menjadi faktor krusial dalam mendorong adopsi teknologi ini di Indonesia. Bebin menyoroti bahwa pemerintah masih menunggu kepastian perpanjangan sejumlah insentif, seperti subsidi pembelian atau keringanan pajak, yang sebelumnya diberikan.