bajalinks.com – Sektor pariwisata Indonesia menghadapi tantangan akibat ketegangan geopolitik, khususnya antara AS dan Iran, namun optimisme tetap dipertahankan oleh Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, InJourney. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026, Direktur Commercial InJourney, Veronica Sisilia, menjelaskan bahwa situasi ini berpotensi memengaruhi industri pariwisata dan penerbangan. Ia menyoroti kemungkinan pembatalan penerbangan internasional dan dampak kenaikan harga minyak dunia yang saat ini menyentuh angka 100 dolar per barel.
Veronica mengungkapkan bahwa volatilitas dalam harga energi dan fluktuasi nilai tukar pasti memberikan dampak yang signifikan. Namun, ia juga menuturkan bahwa sektor pariwisata nasional memiliki ketahanan yang kuat berkat besarnya pasar domestik. Permintaan wisata domestik di Indonesia, menurutnya, tetap menunjukkan tren positif. Meskipun tantangan hadir, InJourney percaya bahwa mereka dapat memanfaatkan momentum periode libur Lebaran 2026 dengan serangkaian program unggulan yang mengedepankan nilai-nilai budaya Indonesia.
Ia juga menekankan perlunya pengalaman menyenangkan saat merayakan Lebaran dengan berbagai kegiatan seperti mudik, jalan-jalan, dan berkumpul bersama keluarga. Pada 2025, diperkirakan jumlah perjalanan wisatawan domestik mencapai sekitar 101 juta, tumbuh sekitar 14,4 persen, sementara wisatawan mancanegara tercatat sekitar 1,14 juta. Dengan catatan positif ini, InJourney bertekad untuk menjaga tren baik di sektor pariwisata meski di tengah situasi geopolitik yang sulit.