bajalinks.com – H&M, salah satu ritel fashion terkemuka, akan menutup 160 gerai di seluruh dunia pada tahun ini. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk meningkatkan fokus perusahaan pada e-commerce dan mengurangi biaya operasional, seiring dengan penurunan belanja yang terjadi di toko fisik.
Pihak H&M dalam laporan pendapatan mengungkapkan bahwa optimalisasi portofolio toko mengakibatkan sedikit penurunan pada penjualan di kuartal pertama 2026 akibat dari penutupan dan renovasi toko. Hal ini menunjukkan penyesuaian yang dilakukan H&M dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke belanja online.
Perusahaan yang didirikan pada tahun 1947 oleh Erling Persson di Swedia ini, saat ini dikelola oleh keluarga Persson yang memiliki hampir 50 persen saham. Stefan Persson, anak pendiri, pernah menjabat sebagai Chairman of the Board hingga Mei 2020 dan digantikan oleh putranya, Karl-Johan Persson. Menurut data terakhir dari Forbes, kekayaan Stefan Persson mencapai sekitar USD 22,3 miliar, setara dengan Rp 381,3 triliun.
Keputusan H&M untuk mengurangi jumlah gerai ini mencerminkan tren global di industri retail yang semakin berfokus pada inovasi digital dan efisiensi biaya. Dengan penutupan yang direncanakan, H&M berupaya untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar yang semakin dinamis.
Dalam konteks ini, perusahaan berharap dapat mengalihkan sumber daya ke platform daring yang lebih menguntungkan, sambil tetap menjaga standar layanan pelanggan yang tinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, konsumen diharapkan tetap dapat menikmati pengalaman berbelanja melalui saluran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.