bajalinks.com – Penutupan total Bandara Soekarno-Hatta terjadi akibat sebaran abu vulkanik yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Peristiwa ini menjadi momen yang historis, mengingat belum pernah sebelumnya bandara terbesar di Indonesia tersebut menghentikan operasionalnya secara keseluruhan.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Haryadi, menyatakan bahwa dari pengalamannya bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sejak tahun 1992, penutupan total bandara belum pernah terjadi. “Sepanjang yang saya tahu, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total,” ungkapnya dalam acara bersama Kementerian Perhubungan di Bandung. Ia menggarisbawahi bahwa selama pandemi COVID-19, bandara tetap beroperasi meskipun ada pembatasan mobilitas yang diterapkan untuk meminimalkan penyebaran virus.
Penutupan ini diakibatkan oleh dampak dari peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, yang mengeluarkan abu ke atmosfer dan memengaruhi penerbangan. Kejadian ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi alam yang berpotensi mengganggu transportasi udara. Laporan awal menunjukkan bahwa keselamatan penumpang dan maskapai menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan penutupan.
Pihak Angkasa Pura Indonesia dan Kementerian Perhubungan sedang memantau situasi dengan seksama. Mereka bekerja sama untuk memastikan informasi yang akurat dan efektif disampaikan kepada publik terkait waktu pemulihan operasional bandara.
Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti perkembangan dan mematuhi petunjuk resmi dari pihak berwenang. Penutupan ini mengingatkan kita akan ketidakpastian yang bisa muncul dari aktivitas vulkanik serta perlunya sistem transportasi yang responsif dan siap menghadapi berbagai tantangan.