bajalinks.com – Bank Indonesia (BI) disarankan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir tahun 2025. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama di tengah potensi peningkatan tekanan inflasi musiman menjelang akhir tahun.
Analisis yang disampaikan oleh Teuku Riefky, ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), menunjukkan bahwa meski inflasi umum menunjukkan penurunan—dari 2,86 persen pada bulan Oktober menjadi 2,72 persen pada November 2025—angka tersebut masih berada di atas target BI yang berkisar antara 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Riefky menjelaskan bahwa mempertahankan suku bunga pada level saat ini sangat penting, mengingat potensi risiko inflasi yang dapat meningkat selama periode libur akhir tahun akibat tingginya permintaan. Menurutnya, situasi ini memerlukan kewaspadaan dari BI untuk mengambil langkah-langkah yang tepat agar stabilitas nilai tukar rupiah tidak terganggu.
Selama sebulan terakhir, rupiah memang mengalami penguatan tipis sekitar 0,11 persen, namun Riefky menekankan bahwa nilai tukar masih rentan terhadap fluktuasi. Dia memperingatkan bahwa pemotongan suku bunga di saat-saat seperti ini bisa memperburuk tekanan inflasi dan berisiko melemahkan nilai tukar rupiah lebih lanjut.
Dengan keadaan ekonomi yang masih dinamis, keputusan yang diambil oleh Bank Indonesia pada RDG kali ini akan memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian domestik, terutama dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar.