bajalinks.com – Harga barang makin mahal imbas pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ini memberikan dampak yang signifikan terhadap daya beli masyarakat. Pada penutupan perdagangan terakhir, nilai tukar Rupiah tercatat melemah 27 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS, menurun 0,15% dibandingkan sehari sebelumnya.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, M Faisal, kondisi ini berpotensi mengganggu ekonomi domestik. Pelemahan Rupiah menyebabkan lonjakan harga barang kebutuhan pokok yang berbasis impor, menambah beban masyarakat, terutama di tengah ketergantungan Indonesia pada pasokan pangan dari luar negeri.
Faisal menjelaskan bahwa komoditas seperti gandum, kedelai, dan bawang putih hampir sepenuhnya diimpor, yang berkontribusi pada inflasi di tingkat konsumen. Ketidakstabilan nilai tukar menciptakan permasalahan di sektor industri, terutama bagi produsen yang bergantung pada bahan baku impor.
Selain mendorong kenaikan harga barang, depresiasi mata uang mengakibatkan pembengkakan biaya produksi di sektor manufaktur. Di antara sektor-sektor yang terkena dampak adalah industri farmasi dan makanan-minuman yang bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi ancaman inflasi yang dapat semakin memperburuk daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar Rupiah tampaknya menjadi tantangan besar yang harus dihadapi dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.