bajalinks.com – Operasional Pelabuhan Kijing, yang diharapkan dapat berfungsi sebagai pintu ekspor-impor utama, mengalami sorotan karena belum berjalan optimal. Pelabuhan yang diresmikan pada 9 Agustus 2022 ini, merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang dibangun sejak 2018, namun masih menghadapi tantangan dalam hal konektivitas infrastruktur pendukung.
Pelabuhan Kijing, yang terletak di Kalimantan Barat, dirancang untuk memperkuat posisi logistik dan meningkatkan daya saing ekspor, khususnya produk seperti CPO, alumina, dan hasil pertanian. Meskipun potensi yang ada, keberhasilan operasional pelabuhan ini terhambat oleh kurangnya infrastruktur yang menghubungkan pelabuhan dengan daerah sekitarnya dan wilayah hinterland.
Sofyano Zakaria, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, menekankan pentingnya pelabuhan ini dalam menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing komoditas. Ia menyatakan bahwa manfaat dari operasional Pelabuhan Kijing diharapkan dapat memberikan efek berganda, mendorong investasi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir Kalimantan Barat.
Dalam rangka memaksimalkan potensi pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) diharapkan tidak hanya berfokus pada operasional terminal, tetapi juga aktif dalam pengembangan ekosistem logistik. Kerja sama dengan investor dan penyedia jasa logistik, serta percepatan integrasi sistem transportasi multimoda, menjadi langkah krusial untuk meningkatkan efektivitas Pelabuhan Kijing.
Ke depan, harapan adalah agar pelabuhan ini dapat beroperasi secara optimal, sehingga benar-benar dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di Kalimantan Barat.