bajalinks.com – Rating Risiko ESG semakin dianggap penting dalam menilai kinerja perusahaan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik penilaian ini semakin meningkat di tengah tuntutan investor global dan regulator untuk bisnis yang berkelanjutan. Environmental, Social, and Governance (ESG) Risk Rating menjadi alat utama untuk mengevaluasi tingkat paparan perusahaan terhadap risiko lingkungan dan sosial, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko tersebut.
Lastyo Lukito, seorang pemerhati ESG, mengungkapkan bahwa tujuan utama dari penilaian ESG adalah untuk memperbaiki kinerja perusahaan dalam pelaporan. Ia menekankan bahwa pengelolaan yang baik atas risiko ESG tidak hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan nilai jangka panjang. Perusahaan yang mengelola risiko ESG dengan baik akan lebih tangguh menghadapi disrupsi industri dan perubahan sosial.
Di Indonesia, transisi menuju praktik bisnis yang lebih transparan dan berkelanjutan terus berlangsung, terutama bagi perusahaan dalam sektor energi, manufaktur, dan keuangan. Skor ESG Risk Rating kini bukan hanya memengaruhi akses pendanaan internasional, tetapi juga membangun reputasi jangka panjang perusahaan. Contohnya, Pertamina, yang mencatat peningkatan signifikan dalam peringkat ESG, menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan.
Peringkat Pertamina per 31 Desember 2025 menduduki posisi tinggi di subindustri migas dunia menurut Sustainalytics dan MSCI, serta mencapai rating A untuk emisi karbon di subentitasnya. Hal ini mencerminkan usaha Pertamina dalam menghadapi tantangan industri dan transisi energi.
Sonny Sukada, Penasihat Senior Social Investment Indonesia, menambahkan bahwa ESG muncul pada tahun 2004–2005 sebagai kerangka untuk mengukur kinerja keberlanjutan perusahaan dalam konteks finansial. Ia menegaskan bahwa pelaporan keberlanjutan sangat penting dalam keuangan berkelanjutan.