bajalinks.com – Serangan siber diprediksi akan menjadi ancaman serius bagi perekonomian Indonesia, dengan potensi kerugian mencapai USD 6,2 miliar atau setara Rp110,7 triliun pada tahun 2026. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, pada Kamis (24/9/2026).
Proyeksi kerugian ini mencerminkan peningkatan risiko kejahatan siber, seperti penipuan dan scam, yang meningkat seiring dengan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor keuangan. Destry mengingatkan bahwa meskipun digitalisasi berperan vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, ancaman siber yang semakin kompleks menuntut perhatian serius dari berbagai pihak.
“Digitalisasi tidak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa risiko yang harus dipahami semua pemangku kepentingan,” jelasnya. Ia menekankan bahwa penguatan sistem keamanan serta literasi dan perlindungan konsumen sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman ini.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mendukung pernyataan BI, menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap meningkatnya kejahatan siber yang berpotensi merugikan publik. Dalam konteks ini, BI berkomitmen untuk memperketat pengawasan keamanan di berbagai sektor, demi melindungi masyarakat dan mendorong kepercayaan dalam ekosistem digital.
Kondisi ini menuntut kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat luas dalam menghadapi tantangan yang ada. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat diambil untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah era digital yang semakin berkembang.