bajalinks.com – Iran memberikan peringatan serius terkait potensi lonjakan harga minyak dunia yang bisa mencapai USD200 per barel. Peringatan ini muncul seiring dengan serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi Iran. Saat ini, harga minyak telah berada di angka USD100 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2022.
Serangan Israel yang dilaporkan menghantam tangki penyimpanan di kilang minyak di Teheran menyebabkan pemerintah Iran terpaksa mengurangi jatah bahan bakar bagi masyarakat. Seorang juru bicara dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menekankan, “Jika Anda dapat mentolerir harga minyak di atas USD200 per barel, lanjutkan permainan ini.” Pernyataan tersebut menyoroti kemungkinan dampak serius dari situasi yang sedang berlangsung.
Sejak eskalasi konflik, Iran bersama kelompok proksinya juga telah menyerang beberapa fasilitas minyak di negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait. Langkah ini berpotensi mengganggu produksi minyak di wilayah tersebut. Setidaknya lima lokasi energi di sekitar Teheran telah menjadi sasaran serangan udara, menciptakan suasana yang tegang di ibu kota Iran.
Dalam konteks ini, perusahaan minyak nasional Kuwait juga merespons dengan mengumumkan pengurangan produksi sebagai langkah pencegahan terhadap potensi serangan balasan dari Iran. Situasi ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, di mana stabilitas pasar minyak sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan militaristik yang sedang berlangsung.