bajalinks.com – Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa mereka akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Pengumuman ini mengejutkan banyak pihak, terutama anggota OPEC lainnya, karena UEA merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Energi UEA mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan kapasitas produksi nasional. Menteri Energi, Suhail Al Mazrouei, menjelaskan bahwa langkah ini dinilai tepat untuk kepentingan nasional. Menurutnya, waktu keluar yang dipilih tidak akan mengganggu produsen lain di dalam OPEC dan OPEC+ serta berdampak minimal terhadap harga minyak global.
Sebelum pengumuman ini, UEA menghadapi serangkaian serangan rudal dan drone dari sesama anggota OPEC, Iran, yang mengancam keamanan eksport minyak mereka. Serangan di Selat Hormuz juga membatasi kemampuan UEA untuk mengekspor minyak, yang dapat berdampak langsung pada perekonomian negara tersebut.
Sejak bergabung pada tahun 1967, UEA telah memainkan peran penting dalam menentukan arah kebijakan OPEC. Pada Februari lalu, UEA tercatat sebagai produsen minyak terbesar ketiga dalam kelompok tersebut setelah Arab Saudi dan Irak. Keluarnya UEA dari OPEC ini tentu akan menjadi peristiwa yang signifikan dalam dinamika pasar minyak internasional.