bajalinks.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama industri manufaktur lebih memilih Vietnam dibandingkan Indonesia adalah perbedaan signifikan dalam harga tanah. Dalam pemaparan yang dilakukan di Jakarta pada 7 Agustus 2026, Bahlil menjelaskan bahwa harga tanah di kawasan industri Vietnam hanya sebesar Rp600 ribu per meter, sedangkan di Indonesia harga tanah mencapai Rp2 juta per meter.
Fenomena ini menjadi faktor penentu bagi perusahaan-perusahaan dalam mengambil keputusan lokasi investasi. Bahlil menekankan bahwa kondisi ini menyebabkan perusahaan lebih memilih untuk berinvestasi di Vietnam, di mana biaya produksi lebih efisien, terutama dalam hal pembebasan lahan.
Menteri Bahlil juga mencatat peristiwa perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang terjadi pada tahun 2016-2017. Dalam periode tersebut, banyak perusahaan yang mencari alternatif lokasi untuk memindahkan basis produksi mereka. Sayangnya, dari 32 perusahaan yang meninggalkan China, tidak ada yang memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia. Sebagian besar dari mereka beralih ke Vietnam dan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Dari hasil diskusi tersebut, Bahlil menekankan perlunya perhatian lebih terhadap kebijakan tanah dan biaya investasi untuk menarik lebih banyak investor ke Indonesia. Melalui langkah strategis, diharapkan Indonesia dapat bersaing lebih baik dalam menarik investasi, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.