bajalinks.com – Defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Indonesia diperkirakan akan tetap tinggi, mencapai 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026 hingga 2027. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari Bank Dunia yang bertajuk “Indonesia Economic Prospects” edisi Juni 2026. Menurut analisis tersebut, penyempitan ruang fiskal Indonesia dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk berbagai program prioritas nasional dan tingginya beban belanja subsidi akibat fluktuasi harga energi global.
Dalam laporan itu, Bank Dunia menyatakan bahwa kombinasi antara alokasi anggaran subsidi energi yang besar dan implementasi program strategis berukuran besar menjadi tekanan utama terhadap keuangan negara. Defisit anggaran yang diprakirakan tetap di level 2,8 persen dari PDB mencerminkan dampak dari belanja subsidi dan program prioritas yang saling mempengaruhi.
Bank Dunia menekankan bahwa pengeluaran pemerintah memiliki peranan penting sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di tengah ketidakpastian iklim usaha global. Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap belanja APBN ini mengindikasikan adanya risiko terhadap ketahanan fiskal jangka panjang.
Di sisi lain, meski pengeluaran pemerintah tertekan, Bank Dunia optimis bahwa penerimaan negara akan mulai mengalami peningkatan dalam beberapa tahun mendatang. Tren positif ini dipandang sebagai hasil dari penyelesaian tunggakan restitusi pajak dan penerapan reformasi dalam administrasi perpajakan nasional. Pengetatan pengelolaan keuangan diharapkan dapat memberikan solusi bagi tantangan fiskal yang dihadapi Indonesia.