bajalinks.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di negara-negara ASEAN dipicu oleh konflik di Timur Tengah, khususnya akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Lonjakan ini tidak hanya mempengaruhi kawasan Timur Tengah, namun juga berimbas pada pasar energi global, yang membuat banyak negara mencatat peningkatan harga BBM di tingkat konsumen.
Berdasarkan laporan terbaru, setidaknya 85 negara di seluruh dunia melaporkan kenaikan harga BBM sejak serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Fenomena ini terjadi karena adanya gangguan pasokan minyak global dan meningkatnya ketidakpastian di pasar energi internasional.
Negara-negara ASEAN mengalami variasi dalam tingkat kenaikan harga BBM. Vietnam mencatat lonjakan harga bensin terbesar, di mana harga bensin oktan 95 meningkat hampir 50 persen. Dari harga awal sekitar 0,75 dollar AS per liter pada 23 Februari, kini menjadi 1,13 dollar AS per liter pada 9 Maret 2026. Jika dikonversikan ke dalam rupiah berdasarkan kurs Rp 16.977 per dollar AS, harga tersebut meningkat dari sekitar Rp 12.733 per liter menjadi Rp 19.184 per liter.
Perubahan drastis ini tak hanya menambah beban ekonomi masyarakat, tetapi juga meningkatkan tekanan inflasi di negara-negara ASEAN. Pengamat ekonomi menyarankan agar pemerintah mempersiapkan langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi dampak negatif dari lonjakan harga ini. Pengawasan terhadap pasokan dan distribusi BBM diharapkan bisa membantu menstabilkan harga dan menjaga kestabilan ekonomi kawasan.