bajalinks.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar Amerika Serikat, dengan target berkisar antara Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan yang berlangsung Kamis, 15 Oktober 2026. Kecenderungan pelemahan ini muncul akibat kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang meningkat di Amerika Serikat serta defisit transaksi berjalan yang melebar di Indonesia.
Para pelaku pasar valuta asing saat ini bersikap hati-hati menjelang dirilisnya indikator harga konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Sentimen domestik juga tertekan oleh proyeksi inflasi yang meningkat, meskipun pertumbuhan ekonomi nasional tetap solid. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, menekankan bahwa pasar sedang waspada terhadap data inflasi yang akan dirilis, yang berpotensi mempengaruhi beberapa keputusan penting, termasuk kebijakan suku bunga.
Kontrol pasar global juga sangat bergantung pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS. Diperkirakan, CPI utama untuk bulan September akan naik 0,6 persen secara bulanan, melanjutkan tren kenaikan dari 0,4 persen di bulan sebelumnya. Inflasi tahunan juga diprediksi akan meningkat menjadi 3,7 persen, dari 3,4 persen.
Laporan dari Dana Moneter Internasional (IMF) juga menunjukkan bahwa ekonomi global saat ini dihadapkan pada tantangan signifikan akibat eskalasi geopolitik dan disrupsi teknologi. IMF mencatat bahwa dampak dari kondisi ini bervariasi antar negara, tergantung pada lokasi geografis dan sensitivitas terhadap harga komoditas, serta kemampuan setiap negara untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan.