bajalinks.com – Harga BBM Pertalite diprediksi akan mengalami kenaikan antara 10 hingga 15 persen, dari harga saat ini yang berada di angka Rp10.000 per liter. Kenaikan ini diharapkan dapat membantu mengatasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semakin membebani.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan dari harga minyak dunia yang melonjak akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam konteks ini, pemerintah perlu mengambil langkah yang bijak untuk mencegah beban subsidi energi yang tak terkendali.
Fabby menjelaskan bahwa untuk menjaga agar kompensasi tetap dalam batasan yang aman dan tidak menambah defisit, harga Pertalite harus disesuaikan. “Saya hitung-hitung, agar kompensasi tidak terlalu besar dan masih dalam batas jangkauan APBN, maka Pertalite itu mungkin harusnya naik 10-15 persen,” ungkapnya saat dihubungi di Jakarta.
Kenaikan harga minyak mentah global, menurutnya, memberikan dampak signifikan terhadap keuangan negara. Setiap peningkatan 1 dolar AS di atas asumsi harga minyak yang ditetapkan dalam APBN bisa menambah beban fiskal hingga Rp6,5 triliun sampai Rp6,8 triliun per tahun. Jika tren ini berlanjut, beban tambahan tersebut berpotensi memperburuk dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Dalam situasi ini, pemerintah dihadapkan pada dilema antara menambah utang atau menaikkan harga BBM. “Kalau tidak disesuaikan, beban kompensasi ke Pertamina akan terus meningkat. Ini yang perlu dikendalikan,” tutup Fabby.