bajalinks.com – Ketidakpastian global yang tinggi saat ini meningkatkan kerjasama antara para pemangku kepentingan dalam menjaga perekonomian nasional, khususnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Menurut Kepala Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Aslan Lubis, tahun ini menjadi tantangan besar bagi industri jasa keuangan. Ketidakpastian yang dipicu oleh geopolitik global, terutama akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta langkah-langkah proteksionis dari berbagai negara, mengganggu rantai pasok energi, yang berdampak pada Indonesia yang kini menjadi net importir minyak.
Dalam diskusi Forekbank Financial Outlook 2026 yang berlangsung di Jakarta, Aslan menekankan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga untuk menangani tantangan tersebut. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 125 basis poin sejak Mei 2026, sementara Kementerian Keuangan melakukan efisiensi anggaran untuk program-program penting demi menjaga stabilitas Rupiah.
Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Telisa Falianty, penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat krusial dalam menjaga stabilitas perekonomian di tengah tekanan global. Ia menegaskan bahwa harmonisasi antara kebijakan yang diambil oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia harus berimbang, tanpa dominasi salah satu pihak, agar tidak mengarah pada risiko ketidakstabilan ekonomi.
Selain itu, Telisa juga mengindikasikan bahwa pergerakan kebijakan fiskal menghadapi tantangan dalam transmisi ke daerah, terutama dengan pemangkasan Dana Transfer ke Daerah untuk mendanai program-program prioritas. Hal ini memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah supaya pelayanan publik tidak terganggu. Di sektor riil, meskipun pertumbuhan kredit menunjukkan pemulihan, penyalurannya masih terbatas pada sektor korporasi besar, sementara kredit untuk UMKM belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.