bajalinks.com – Prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (Antam) masih dinilai kuat meskipun perusahaan tersebut baru saja dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard. Para analis meyakini bahwa fundamental perusahaan tetap solid, terlihat dari laba bersih yang mencatatkan Rp6,91 triliun pada semester I 2026, meningkat 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Emas menjadi kontributor utama penjualan, diikuti oleh bisnis nikel dan proyek hilirisasi yang diproyeksikan akan mendukung pertumbuhan.
Dalam pernyataannya, Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyarankan investor agar menunggu stabilisasi harga dan meredanya tekanan jual asing sebelum melakukan akumulasi saham. Ketegangan ini dipicu oleh penyesuaian portofolio yang dilakukan oleh dana kelolaan pasif global sebagai laba Antam akan mempengaruhi besaran dividen di masa depan, yang diketahui mencapai Rp5,05 triliun pada tahun buku 2025, setara 70 persen dari laba bersih.
Mirae Asset Sekuritas juga menyoroti bahwa meskipun ada tekanan jual pasca keluarnya Antam dari indeks MSCI, itu lebih bersifat teknikal dan tidak mencerminkan penurunan kinerja operasional. Menurut Senior Market Analyst mereka, Nafan Aji Gusta, arus kas dan profitabilitas yang kuat memberi harapan untuk dividen yang besar di masa mendatang.
Elandry Pratama dari Panin Sekuritas menambahkan, peluang akumulasi saham akan terbuka jika valuasi menjadi menarik, meski harus dilakukan secara bertahap. Terkait masa depan, Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, berpendapat bahwa pergerakan saham akan sangat dipengaruhi oleh harga emas serta laba perusahaan.
Antam tetap mengedepankan pengembangan bisnis hilirisasi agar dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditas mineral, sejalan dengan kinerja yang tetap solid di sektor nikel dan bauksit.