bajalinks.com – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran diprediksi akan meningkatkan harga minyak dunia, yang dapat memicu inflasi. Menurut pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, lonjakan harga minyak akan berdampak lebih luas terhadap perekonomian.
Kenaikan harga energi dipastikan akan mengerek biaya distribusi dan produksi, sehingga memperbesar tekanan inflasi di semua sektor. Rizal menekankan bahwa dampak awal dapat dilihat dari peningkatan harga bahan bakar, yang akan menyebabkan harga logistik pangan serta berbagai produk, termasuk pupuk, mengalami kenaikan. Dalam situasi ini, ekspektasi inflasi juga akan meningkat, menambah tantangan bagi perekonomian.
Dalam konteks ketidakpastian global, pasar keuangan cenderung beralih ke ‘mode risk-off’, di mana investor lebih suka berinvestasi pada aset yang lebih aman seperti dolar AS. Hal ini berpotensi melemahkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah Indonesia. Dengan kondisi itu, otoritas moneter diharapkan akan lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah daripada melonggarkan kebijakan suku bunga.
Rizal menambahkan bahwa tantangan ini disertai dengan situasi ekonomi dan pasar uang domestik yang sedang dalam tekanan. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga nilai tukar rupiah akan menjadi prioritas bagi kebijakan moneter, mengingat situasi yang tidak menentu ini.
Dengan berbagai faktor eksternal dan internal yang berinteraksi, inflasi menjadi isu yang perlu diwaspadai ke depannya, terutama bagi pengambil kebijakan dan perekonomian negara.