bajalinks.com – Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri tidak hanya dipicu oleh harga dan pasokan gas bumi, melainkan oleh tekanan geopolitik global yang lebih mendalam. Hal ini disampaikan oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, pada Minggu (28/6/2026), di Jakarta.
Said Iqbal menjelaskan bahwa konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar minyak dan gas, terutama yang tidak disubsidi. Selain itu, terdapat penurunan daya beli masyarakat yang berimbas pada berkurangnya volume produksi di perusahaan-perusahaan. Pertumbuhan ekonomi yang melemah dan masalah nilai tukar Rupiah juga turut memperburuk kondisi ini. Akibatnya, banyak industri yang terpaksa merelokasi sebagian dari produksinya ke negara-negara lain.
Lebih lanjut, Said Iqbal menegaskan bahwa situasi yang dihadapi dunia usaha jauh lebih rumit daripada sekadar masalah energi. Dalam menghadapi ancaman PHK, pemerintah berupaya melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah kondisi ini semakin meluas. Saat ini, pemerintah sedang melakukan verifikasi terhadap kasus-kasus yang ada di lapangan karena tidak semua laporan mengenai PHK yang beredar adalah akurat.
Said Iqbal menegaskan bahwa penting bagi pemerintah untuk menengahi dan mencari solusi yang efektif agar angka PHK, yang diperkirakan mencapai 55 ribu pekerja, dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan berbagai kendala yang dihadapi, keberlanjutan industri menjadi tantangan yang harus diatasi demi menjaga kesejahteraan para pekerja di Indonesia.