bajalinks.com – Rupiah yang melemah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama di media sosial, setelah sejumlah influencer dan pengamat saham menyatakan bahwa kondisi ini menguntungkan perekonomian nasional. Namun, pendapat tersebut mendapatkan kritik dari Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, yang menilai narasi tersebut keliru. Menurut Josua, banyak dari mereka yang tidak memahami struktur industri domestik secara mendalam, sehingga menyebarkan pandangan yang menyesatkan.
Dalam acara pelatihan wartawan di Makassar pada Minggu (24/5/2026), Josua mengungkapkan keprihatinannya mengenai informasi yang salah yang beredar di platform digital. Ia menekankan bahwa pernyataan yang menyatakan bahwa pelemahan Rupiah dapat menjadi stimulus positif bagi pertumbuhan ekonomi harus dipahami dengan konteks yang lebih luas. Josua menegaskan bahwa meski pengekspor komoditas mungkin diuntungkan, sektor hilir seperti industri manufaktur justru akan terkena dampaknya.
Lebih detail, Josua memaparkan bahwa pelemahan mata uang dapat meningkatkan biaya produksi bagi pabrik yang bergantung pada bahan baku impor. Dengan begitu, efek dari depresiasi Rupiah ini bersifat asimetris; beberapa pihak mungkin mendapatkan keuntungan, tetapi sektor-sektor tertentu harus menghadapi kerugian yang signifikan.
Edukasi publik mengenai fluktuasi nilai tukar dinilai penting, terutama di tengah situasi ekonomi yang sensitif. Josua mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak terjebak dalam opini yang tidak berbasis pada analisis yang mendalam. Melalui pendekatan ini, diharapkan pemahaman masyarakat tentang kondisi ekonomi dapat meningkat dan membantu pengambilan keputusan yang lebih baik di masa mendatang.